Senin, 28 Februari 2011

my skripsi

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
 PT. PERKEBUNAN NUSANTARA 1 PKS dan PIS Tg. SEUMANTOH KECAMATAN KARANG BARU KABUPATEN ACEH TAMIANG



ABSTRAK

Penelitian Keanekaragaman Tumbuhan di Perkebunan Kelapa Sawit PT. Perkebunan Nusantara 1 PKS (Pabrik Kelapa Sawit) dan PIS (Pabrik Inti Sawit) desa  Tg. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang dilaksanakan pada tanggal 17 sampai 27 Juli 2009. Penelitian ini  bertujuan mengetahui tingkat keanekaragaman tumbuhan di perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara 1 PKS dan PIS desa Tg. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode petak ganda, dimana luas petak untuk tumbuhan herba adalah 1m x 1m dan untuk semak adalah 5m x  5m, sedangkan untuk pohon dilihat kerapatan dan frekuensi secara keseluruhan. Data dianalisis menggunakan analisis nilai penting (NP), indeks keragaman (H’), dan indeks kemiripan (IS). Hasil penelitian diperoleh 85 spesies tumbuhan yang terdiri dari 55 spesies herba dari 23 familia, 15 spesies semak dari 9 familia, dan 15 spesies pohon dari 12 familia. Tingkat Keanekaragaman tumbuhan herba pada seluruh lokasi penelitian adalah sedang, yakni memiliki Indeks Keragaman rata-rata sebesar 2,620. Tingkat Keanekaragaman tumbuhan semak pada seluruh lokasi penelitian adalah rendah, yakni memiliki Indeks Keragaman rata-rata sebesar 1,476. Familia pohon yang mendominasi lokasi penelitian adalah Malvaceae dan Arecaceae. Masing-masing sebanyak 2 spesies. Malvaceae terdiri dari Hibiscus tiliaceus dan Ceiba pentandra sedangkan Arecaceae terdiri dari Arecha cathecu dan Cocus nucifera.

Kata kunci : Keanekaragaman, tumbuhan (herba, semak, dan pohon), perkebunan
                     kelapa sawit.



BAB I

PENDAHULUAN



1.1    Latar Belakang Masalah
 Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu tanaman perkebunan di Indonesia. Perkebunan kelapa sawit semula berkembang di daerah Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam. Namun, sekarang telah berkembang ke berbagai daerah, seperti Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sunarko, 2007: 01).
    PT. Perkebunan Nusantara 1 PKS (Pabrik Kelapa Sawit) dan PIS (Pabrik Inti Sawit) Tg. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang telah berdiri sejak tahun tujuh puluhan dan sampai saat ini masih aktif memproduksi kelapa sawit. Dengan luas areal perkebunan 724 ha dan jumlah pohon kelapa sawit 89.818 batang, produksi perkebunan ini mencapai 17 ton tandan buah segar per hari (Wawancara: 2009).
    Masyarakat di sekitar perkebunan menggantungkan kehidupannya dengan bekerja di perkebunan tersebut. Sejak tahun tujuh puluhan sampai tahun 2009  jumlah karyawan yang dipekerjakan cenderung meningkat, mengikuti pertambahan luas areal dan hasil produksi kelapa sawit perkebunan tersebut.
    Salah satu upaya peningkatan kualitas dan kuantitas hasil produksi perkebunan adalah pengendalian tumbuh-tumbuhan pengganggu. Hal ini dikarenakan keberadaannya dapat menjadi pesaing tanaman kelapa sawit dalam hal perolehan air dan unsur hara dalam tanah.
    Alang-alang adalah tumbuhan liar (gulma) yang sangat mengganggu tanaman di perkebunan, termasuk kelapa sawit. Selain merampas unsur hara dan air, alang-alang juga mengeluarkan zat yang sangat beracun (alelopati) dan mengganggu akar tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan (Sunarko, 2007: 36). Pahan (2008) mengemukakan bahwa lalang merupakan pesaing bagi tanaman kelapa sawit dalam pengambilan unsur hara dari dalam tanah, dan dapat menurunkan produksi sebesar 25%.
    Beranekaragam tumbuhan hidup di areal perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara 1 PKS dan PIS TG. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang, baik di tanah sekitar kelapa sawit maupun yang menempel pada batang serta pelepah kelapa sawit.    
     Berdasarkan kenyataan tersebut, penulis berkeinginan mengetahui tingkat keanekaragaman tumbuhan di perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara 1 PKS dan PIS TG. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang. Untuk keperluan ini penulis mengambil judul ”Keanekaragaman Tumbuhan di Perkebunan Kelapa Sawit PT. Perkebunan Nusantara 1 PKS dan PIS Tg. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang.”

1.2        Rumusan Masalah
    Bagaimanakah tingkat keanekaragaman tumbuhan di perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara 1 PKS dan PIS Tg. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang ?

1.3    Tujuan Penelitian
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keanekaragaman tumbuhan di perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara 1 PKS dan PIS Tg. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang.

1.4    Ruang Lingkup Penelitian
    Ruang lingkup penelitian ini adalah mengkaji masalah Taksonomi dan ekologi tumbuhan, khususnya tumbuhan di perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara I PKS dan PIS Tg. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang.

1.5    Definisi Operasional
    Keanekaragaman adalah perihal beragam-ragam atau berjenis-jenis tumbuhan (Mc. Naughton, 1990). Keanekaragaman yang dimaksud dalam penelitian ini adalah  jenis tumbuhan yang terdapat di perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara I PKS dan PIS TG. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang.
    Perkebunan kelapa sawit di desa Tanjung Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang ini merupakan Afdeling VII Kebun Lama PTP. Nusantara-I (Persero). Karena lokasinya bersebelahan dengan pabrik kelapa sawit dan pabrik inti sawit PTP. Nusantara-I (Persero) di desa Tanjung Seumantoh, masyarakat lebih mengenal perkebunan ini dengan sebutan kebun kelapa sawit PKS seumantoh (Wawancara, 2009).
     Luas total Afdeling VII tersebut adalah 762 ha dengan luas tanaman menghasilkan sebanyak 724 ha.   (Data Perkebunan, 2009).   

1.6    Manfaat Penelitian
    Penelitian ini diharapkan dapat :
1.    Memberikan informasi mengenai keanekaragaman tumbuhan yang terdapat di Perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara 1 PKS dan PIS Tg. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang.
2.     Menjadi dasar pengambilan kebijakan oleh pengelola perkebunan dalam peningkatan kualitas dan kuantitas hasil produksi kelapa sawit di perkebunan tersebut, terutama dalam hal pengendalian gulma.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq)
    Kelapa sawit merupakan tumbuhan monokotil yang tidak memiliki akar tunggang. Radikula (bakal akar) pada bibit terus tumbuh memanjang ke arah bawah selama enam bulan terus-menerus dan panjang akarnya mencapai 15 cm. Akar primer kelapa sawit terus berkembang. Tanaman kelapa sawit umumnya memiliki batang yang tidak bercabang. Titik tumbuh batang kelapa sawit terletak di pucuk batang, terbenam di dalam tajuk daun, berbentuk seperti kubis, dan enak dimakan. Daun kelapa sawit menyerupai bulu burung atau ayam. Di bagian pangkal pelepah daun terbentuk dua baris duri yang sangat tajam dan keras di kedua sisinya. Tanaman kelapa sawit yang berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mulai mengeluarkan bunga jantan atau bunga betina. Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang, sedangkan bunga betina agak bulat (Sunarko, 2007: 07).
    Tanaman kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu bagian vegetatif dan bagian generatif. Bagian vegetatif  kelapa sawit meliputi akar, batang, dan daun, sedangkan bagian generatif yang merupakan alat perkembangbiakan terdiri dari bunga dan buah (Fauzi, 2008: 25).
    Nama latin kelapa sawit Elaeis guineensis, berasal dari bahasa Yunani kuno elaia yang berarti zaitun, karena buahnya mengandung minyak dalam jumlah sangat banyak. Tanaman elegan yang berasal dari daerah tropika basah afrika ini masih memiliki kekerabatan dengan tanaman kelapa. Kelapa sawit memiliki organ vegetatif berupa daun, batang, akar serta organ reprodukif berupa bunga dan buah (Pahan, 2008: 07).
Pohon Kelapa Sawit
Daun Kelapa Sawit
Tandan Buah Segar
Buah Kelapa Sawit
Bunga Jantan
Bunga Betina

















Gambar 2.1. Organ vegetatif dan generatif tumbuhan kelapa sawit

2.2    Keanekaragaman
    Keanekaragaman berarti keadaan berbeda atau mempunyai berbagai perbedaan dalam bentuk atau sifat. Keanekaragaman spesies di daerah tropika dapat dilihat pada dua tingkatan, yaitu jumlah besar pada spesies dengan bentuk kehidupan serupa dan kehidupan banyak spesies dengan wujud kehidupan yang sangat berbeda yang tidak ditemukan di bagian dunia lain (Ewusie, 1990: 15).
        Keanekaragaman jenis dapat digunakan untuk menandai jumlah suatu jenis dalam suatu daerah tertentu atau sebagian diantara jumlah total individu seluruh jenis yang ada. Hubungan ini dapat dinyatakan secara numerik sebagai indeks keanekaragaman. Angka banding antara jumlah jenis dan jumlah individu dalam suatu komunitas dinyatakan sebagai keanekaragaman jenis (Michael, 1985:269).

2.3    Flora
    Tumbuhan merupakan salah satu keanekaragaman hayati yang banyak dimanfaatkan manusia. Hewan pun bergantung pada tumbuhan sebagai sumber energi. Tumbuhan merupakan gudang berbagai jenis senyawa kimia, mulai dari struktur dan sifat yang sederhana sampai yang rumit dan unik (Djauhariya, 2004).
    Alam tumbuhan yang ditaksir meliputi 300.000 jenis tumbuhan itu dalam klasifikasinya dibagi-bagi menjadi sejumlah divisi. Tiap divisi seterusnya berturut-turut dibagi-bagi lagi dalam takson yang lebih rendah, yaitu kelas, bangsa, suku, marga dan jenis (Tjitrosoepomo, 2005: 01).
    Komunitas tumbuhan merupakan salah satu sumberdaya yang paling erat hubungannya dengan manusia dan hewan di seluruh dunia. Untuk mempertahankan kondisi lingkungan, tumbuhan harus tetap dominan dimana-mana. Dalam komunitas tertentu atau habitat tertentu, spesies yang berbeda-beda mempunyai relung ekologinya sendiri-sendiri, suatu komunitas akan mempunyai relung ekologi. Pada waktu komunitas tumbuhan tertentu dianggap telah mempunyai perkembangan puncaknya, semua relungnya mungkin telah terisi (Tjitrosoepomo, 1991 : 85).  

2.4    Analisis Vegetasi       
    Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Komposisi jenis perlu dipelajari untuk mengetahui nilai dan penyusun suatu tegakan sebagai bahan pertimbangan perlu tidaknya suatu tegakan dipertahankan (Endang, 2002 : 52).
    Vegetasi adalah kumpulan dari tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari beberapa jenis yang hidup secara bersama dalam suatu tempat. Diantara individu-individu penyusun terdapat interaksi yang sangat erat, baik antar tumbuhan sendiri maupun dengan hewan dan organisme lainnya. Dengan demikian berarti bahwa vegetasi bukan hanya kumpulan dari individu tumbuhan saja, melainkan suatu kesatuan dimana terjadi saling ketergantungan dan disebut komunitas tumbuhan, dan apabila pengertian tumbuh-tumbuhan ditekankan pada hubungannya dengan faktor lingkungan maka disebut dengan ekosistem (Pudjiharta, 1991 : 103).
    Cara lain adalah deskripsi yang berdasarkan komposisi floristik yang disebut dengan analisis vegetasi. Pada dasarnya cara ini adalah mempelajari susunan atau  komposisi masyarakat tumbuh-tumbuhan. Pengambilan sampel dari unit yang dipelajari  dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan cara  petak tunggal, cara kuadran dan cara jalur (Soeryanegara, 1972 : 46).


BAB III
METODE  PENELITIAN

3.1    Tempat dan Waktu Penelitian
    Pengumpulan data penelitian ini dilaksanakan di areal  perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara 1 PKS dan PIS Tg. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang pada tanggal 17 sampai 27 Juli 2009. Luas lokasi penelitian adalah 7.240.000 m2.

3.2    Alat dan Bahan Penelitian
3.2.1    Alat
    Alat yang digunakan adalah pita meteran/roll, tali untuk pembuatan petak ukur, kamera dan alat-alat tulis.
3.2.2    Bahan
    Bahan yang digunakan adalah kantong plastik, alkohol 70%, kertas lebel, buku tulis, buku identifikasi, herbarium press, kompas, parang dan gunting pemotong tumbuhan.

3.3       Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1    Populasi Penelitian
    Populasi dalam penelitian ini adalah luas seluruh areal perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara 1 PKS dan PIS TG. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang. Luas populasi ini adalah 7.240.000 m2.
    Topografi areal perkebunan datar dan umur tanaman kelapa sawit bervariasi. Secara umum areal perkebunan kelapa sawit dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar, yakni tanaman kelapa sawit berumur di bawah sepuluh tahun dengan luas populasi 5.068.000 m2 dan tanaman kelapa sawit berumur di atas sepuluh tahun dengan luas populasi 2.172.000 m2.

3.3.1    Sampel Penelitian
    Sampel penelitian ditentukan 10% dari luas populasi, sehingga luas sampel penelitian 724.000 m2. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Oosting (1956 : 50), ”Sampel-sampel yang digunakan adalah 10% dari keseluruhan wilayah yang telah ditentukan”.
   
3.4    Metode dan Teknik Pengambilan Sampel Penelitian
    Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode petak ganda. Dengan teknik pengambilan sampel sebagai berikut:
    Pada sampel penelitian ditentukan 10 stasiun pengamatan. Pada 10 stasiun pengamatan terdiri dari 100 plot herba, dengan luas setiap plot 1m x 1m dan 50 plot semak dengan luas setiap plot 5m x 5m (Kusmana, 1997). Sedangkan untuk pohon dihitung frekuensi dan kerapatan secara keseluruhan.











Gambar 3.1 Desain petak-petak contoh di lapangan dengan metode petak ganda
             (Soegianto, 1994).

3.5    Parameter Penelitian
    Parameter dalam penelitian ini meliputi frekuensi jenis, jumlah individu tiap jenis, dan dominansi jenis yang ditemukan pada tiap petak contoh di lokasi penelitian.
    Frekuensi jenis menyatakan hadir tidaknya suatu jenis tumbuhan pada petak contoh. Jumlah individu tiap jenis (kerapatan jenis) adalah penghitungan jumlah individu setiap jenis yang dijumpai dalam petak contoh. Dominansi jenis adalah luas bidang dasar tajuk setiap jenis pada petak contoh. 

3.6    Pengumpulan Data
    Pengumpulan data dilakukan setelah penelitian ditetapkan dan dibagi menjadi stasiun-stasiun pengamatan, spesies dan jumlah individu yang terdapat pada setiap kuadrat sampel dicatat pada lembaran kerja yang telah tersedia. Spesies tumbuhan yang telah diketahui nama ilmiahnya langsung didata sedangkan yang belum diketahui nama ilmiahnya maka diberi etiket gantung dan koleksi sehingga dapat dikenal dan didata pada kuadrat sampel berikutnya, kemudian spesies ini diidentifikasi di laboratorium.
    Untuk memperoleh data kuantitatif vegetasi yang diamati untuk keperluan uji statistik dalam analisis vegetasi, maka setiap spesies yang tercatat pada tabel pengamatan dihitung nilai kerapatan, kerapatan relative, frekuensi relatif, dominansi, dan nilai penting setiap spesies.

3.6.1    Kerapatan Spesies
    Kerapatan spesies menunjukkan nilai individu setiap spesies persatuan luas daerah. Perhitungan kerapatan spesies dengan menghitung jumlah individu setiap spesies yang dijumpai dalam petak contoh. Kerapatan spesies dihitung dengan rumus :
Kerapatan mutlak spesies i
Kerapatan mutlak (Km)  =
  
Luas area cuplikan
                       
3.6.2    Dominansi
    Dominansi adalah luas penutupan suatu spesies, khususnya tumbuhan terhadap
muka bumi, dimana satuan untuk dominansi dapat digunakan satuan luas maupun persen (%) (Moesa, 2002 : 41). Dominansi merupakan luas bidang dasar tajuk setiap spesies pada petak contoh. Luas bidang dasar diperoleh dari pengukuran keliling batang pohon setinggi dada.
Dominansi mutlak (Dm) =
Jumlah total luas petak contoh
Dominansi mutlak spesies i



3.6.3    Frekuensi
    Frekuensi jenis menyatakan hadir tidaknya suatu jenis tumbuhan pada petak contoh. Untuk menghitung frekuensi dicatat kehadiran ( √ ) dan ketidakhadiran ( - ) suatu jenis, dengan satuannya %.  Data frekuensi diperoleh dari hasil tabulasi data dengan formula :
Jumlah seluruh petak contoh yang diambil
Jumlah petak contoh yang diduduki spesies i
Frekuensi mutlak (Fm) =



    Selanjutnya penghitungan dari kerapatan spesies, dominansi spesies dan frekuensi digunakan untuk menghitung nilai penting. Nilai penting adalah tingkat kedudukan suatu spesies tumbuhan dalam suatu komunitas. Penghitungan nilai penting dengan rumus :  
NP = KR + FR + DR
Kerapatan mutlak spesies i
X  100%
Jumlah kerapatan seluruh spesies
Kerapatan Relatif (KR)  =


X  100%
Frekuensi mutlak spesies i
Frekuensi Relatif (FR)  =

Jumlah frekuensi seluruh spesies

X  100%
Dominansi mutlak  spesies i
Dominansi Relatif (DR)  =

Jumlah dominansi seluruh spesies


                                        (Indriyanto, 2006: 142-144)
3.7    Analisis Data
    Analisis data dalam penelitian ini digunakan nilai penting (NP), indeks keragaman (H’), dan indeks kemiripan (IS).

3.7.1    Nilai Penting
     Nilai Penting ditentukan  dengan formula sebagai berikut :
     NP = KR + FR + DR
Keterangan :   
NP    =    Nilai Penting
KR    =    Kerapatan Relaif
FR    =    Frekuensi Relatif
DR    =    Dominansi Relatif
                                       (Indriyanto, 2006: 144)

3.7.2    Indeks Keragaman Umum Shannon-Weaver
    Nilai keragaman spesies dihitung dengan menggunakan rumus keragaman umum Shannon-Weaver, sebagai berikut :
                                  
       

Keterangan :
     Indeks keragaman umum Shannon-Weaver
 =    Proporsi seluruh individu dalam sampel ke spesies i


Dimana :
     Nilai Penting tiap spesies
N  =     Total nilai penting tiap spesies
                                      (Barbour et al, 1987)

    Agar keragaman dapat ditafsirkan maknanya, maka perlu diklasifikasikan atas empat kategori yaitu tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah (Djufri, 2006).
Jika 3 <   <  4    = Kategori Tinggi
Jika 2 <   <  3    = Kategori Sedang
Jika 1 <   <  2    = Kategori Rendah
Jika   < 1 = Kategori Sangat Rendah
                                                     (Djufri, 2006)

3.7.3 Indeks Kemiripan (IS)
    Indeks kemiripan digunakan untuk mengetahui tingkat kesamaan komunitas pada setiap lokasi penelitian. Indeks kemiripan (IS) yang digunakan adalah Model Sorenses dengan rumus :
        IS 
                                                 (Odum, 1993 )
Keterangan :
IS   =  Indeks Similiritas
C    =  Jumlah spesies yang sama yang terdapat pada kedua stasiun yang
            dibandingkan
A    =  Jumlah spesies dalam sampel A
B    =  Jumlah spesies dalam sampel B


Dengan ketentuan :                                    
Kemiripan sangat tinggi bila IS > 75%
Kemiripan tinggi bila IS > 50% s/d 75%
Kemiripan rendah bila IS > 25% s/d 50%
Kemiripan sangat rendah bila IS < 25%
                                                 (Djufri, 2006)



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.    Komposisi Spesies, Nilai Penting, dan Keragaman Tumbuhan di Lokasi Penelitian
        Hasil yang diperoleh dari lokasi penelitian adalah 55 spesies herba dari 23 familia, 15 spesies semak dari 9 familia dan 15 spesies pohon dari 13 familia.

4.1.1. Komposisi Spesies Herba
    Hasil penelitian di areal perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara 1 PKS dan PIS TG. Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang ditemukan 55 spesies herba dari 23 familia. Komposisi familia herba ditampilkan dalam diagram pie berikut:

Gambar 4.1. Diagram Pie Komposisi Familia Herba Pada Seluruh Stasiun Penelitian

    Adapun nama lokal, nama ilmiah, dan familia dari tumbuhan herba ditampilkan pada Tabel 4.1. berikut:
Tabel 4.1. Nama Lokal, Nama Ilmiah, dan Familia kelompok herba yang
    ditemukan di seluruh stasiun penelitian.

No    Nama Lokal    Nama Ilmiah    Famili    Stasiun      
(1)    (2)    (3)    (4)    (5)      
1    Keladi kecil    Typhonium flagelliforme     Araceae    VII,VIII,IX,X      
2    Teki-tekian     Cyperus cyperinus    Cyperaceae     X      
3    Teki-tekian    Cyperus radiates    Cyperaceae     X      
(1)    (2)    (3)    (4)    (5)      
4    Teki-tekian    Cyperus difformis    Cyperaceae    I,X      
5         Ipomoea pestigridis    Convolvulaceae    X       
6    Rerumputan    Digitaria sanguinalis    Poaceae    III,V,VII,VIII,X      
7    Puri malu     Mimosa pudica    Mimosaceae    I,II,IV,V,VI,VII,VIII,IX,X      
8    Rumput pahit    Axonopus compresus    Poaceae    II,IV,V,VI, VII,VIII,IX,X      
9    Rumput jarum    Andropogon aciculatus    Poaceae    I,II,III,IV,V,VI,VII,VIII,X      
10    Jarong     Stachytarpheta indica    Verbenaceae    I,IV,V,VI,VII,VIII,IX,X      
11        Emilia sonchifolia    Asteraceae    V,X      
12    Rumput teki    Kyllinga monocephala    Cyperaceae    II,III,IV,V,VI,VIII,IX,X      
13    Paku-pakuan     Dryopteris cucullata    Dryopteridaceae    I,IV,VIII,X      
14    Paku-pakuan    Dryopteris arida    Dryopteridaceae    I,X      
15    Keladi    Caladinus bicolor    Araceae    I,II,III,IV,V,X      
16         Sporobolus berteroanus    Poaceae    III,VII,VIII,X      
17         Blumea sessiliflora    Asteraceae    VII,X      
18    Rumput teki    Cyperus dilutes    Cyperaceae    I       
19    Rumput teki    Cyperus elatus    Cyperaceae    I,VII      
20    Meniran    Phyllanthus urinaria    Euphorbiaceae    I,V,VI,VII,IX      
21    Babadotan    Ageratum conyzoides    Asteraceae    I,III,IV,V,IX      
22        Boreira latifolia    Rubiaceae    I       
23    Paku-pakuan    Gleichenia linearis    Gleicheniaceae    I,II,III,IV      
24    Alang-alang     Imperata cylindrical    Poaceae    I,IV,VII      
25        Achyranthes aspera    Amaranthaceae    I,II,VI,VII,VIII,IX      
26         Isachne miliacea    Poaceae    I       
27         Dimeria ornithopoda    Poaceae    I,II,III,IV,V,VI,VII,VIII      
28         Hemidiodia ocymifolia    Rubiaceae    I       
29    Paku sejati     Selaginella plana    Selaginellaceae    I       
30    Rumput kawat    Cynodon dactylon     Poaceae    I,III,IV,V,VI,VII,IX      
31    Patikan kebo     Euphorbia hirta    Euphorbiaceae    I       
32    Genjer    Limnocharis flava    Limnocharitaceae    I,III      
33    Suwek    Amorphophallus oncophyllus    Araceae    II,VIII      
34    Bayam duri     Amaranthus spinosus    Amaranthaceae    II,IV,VI,VII,VIII,IX      
35    Paria    Cardiospermum halicacabum    Sapindaceae    II,VIII,IX      
36    Pegagan     Centela asiatica    Umbelliferae    II      
37    Ciplukan    Physalis angulata    Solanaceae    II      
38    Kacangan     Desmodium heterophylum    Fabaceae    II      
39    Paitan    Passpalum conjugatum    Poaceae    III      
40    Tapak liman    Elephantopus scaber    Asteraceae    III,IX      
41    Teki-tekian    Cyperus rotundus    Cyperaceae    III,VI      
(1)    (2)    (3)    (4)    (5)      
42    Teki-tekian    Cyperus cyperoidis    Cyperaceae    III          
43    Teki-tekian    Cyperus haspan    Cyperaceae    III      
44    Suplir hutan    Adiantum sp    Pteridaceae    IV,IX      
45        Hyptis brevipes    Labiatae    IV,VII      
46         Coldenia procumbens    Boraginaceae    V      
47        Momordica charantia    Cucurbitaceae    V      
48    Longlengan     Leucas aspera    Poaceae    V,IX      
49        Borreria ocymoides    Rubiaceae    V      
50    Mikania    Mikania micrantha    Asteraceae    V,VII,IX      
51        Eleusine indica    Poaceae    VI      
52    Keladi    Colocasia esculenta    Araceae    VII,VIII,IX      
53         Borreria laevis    Rubiaceae     IX      
54    Paku-pakuan     Nephrolepis exaltata    Lomariopsidaceae     IX      
55    Paku-pakuan     Dryopteris setigera    Dryopteridaceae     IX   
Sumber : Data Penelitian (2009)

    Komposisi spesies herba yang ditampilkan merupakan hasil penggabungan seluruh stasiun pengamatan menunjukkan bahwa terdapat 55 spesies herba dari 23 familia. Dari 55 spesies herba tersebut terdapat 11 spesies dari familia poaceae, 9 spesies dari familia cyperaceae, 5 spesies dari familia asteraceae, 4 spesies dari familia araceae, 4 spesies dari familia rubiaceae, 3 spesies dari familia dryopteridaceae, 2 spesies dari familia amaranthaceae, 2 spesies dari familia euphorbiaceae, dan masing-masing satu spesies dari familia convulvulaceae, Gleicheniaceae, Selaginellaceae, verbenaceae, mimosaceae, imnocharitaceae, sapindaceae, umbelliferae, solanaceae, fabaceae, pteridaceae, labiatae, boraginaceae, cucurbitaceae, dan lomariopsidaceae.
    Berdasarkan Tabel 4.1. di atas dapat dilihat bahwa vegetasi herba yang terdapat di lokasi penelitian didominasi oleh familia poaceae yaitu sebanyak 11 spesies. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tjitrosoepomo (1989 : 493), ”Poaceae merupakan familia terbesar (bila dilihat dari jumlah spesies tumbuhan yang menjadi warganya) meliputi lebih dari 4.000 spesies yang terdiri dari 400 marga, distribusinya meliputi seluruh dunia”. Hal ini dapat terjadi karena familia poaceae memiliki ciri khas yakni suka hidup berkelompok, mereka sering menunjukkan angka kematian yang relatif rendah selama masa yang tidak menguntungkan atau terdapat serangan oleh jasad lain dibandingkan dengan individu yang hidup sendiri.
    Dominansi dari familia poaceae ini disebabkan karena poaceae dikenal sebagai tumbuhan yang dapat hidup di berbagai habitat. Poaceae memiliki sifat antara lain mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya, mudah menyesuaikan diri dengan perubahan iklim, mudah bersaing dengan tumbuhan lain, mudah tumbuh kembali setelah mengalami kerusakan dalam bentuk kekeringan dan kebakaran, berkembang biak melalui biji maupun stolon yang mudah menyebar luas. Lebih jauh Rismunandar (1986 : 17) menjelaskan bahwa, ”Biji rumput mudah berjatuhan bila sudah tua, biji rumput kebanyakan dilengkapi dengan bulu atau alat penempel dan berukuran kecil sehingga mudah menyebar luas bersama angin, air, melalui tinja hewan, dan menempel pada tubuh manusia atau hewan”. 
    Familia lain yang diperoleh di lokasi penelitian yaitu 9 spesies dari familia cyperaceae, 5 spesies dari familia asteraceae, 4 spesies dari familia araceae, 4 spesies dari familia rubiaceae, 3 spesies dari familia dryopteridaceae, 2 spesies dari familia amaranthaceae, 2 spesies dari familia euphorbiaceae, dan masing-masing satu spesies dari familia convulvulaceae, Gleicheniaceae, Selaginellaceae, verbenaceae, mimosaceae, imnocharitaceae, sapindaceae, umbelliferae, solanaceae, fabaceae, pteridaceae, labiatae, boraginaceae, cucurbitaceae, dan lomariopsidaceae. Rendahnya dominansi spesies-spesies herba tersebut disebabkan kurangnya kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, kurang mampu berkompetisi (dalam mendapatkan sumber hara, makanan, ruang dan cahaya). Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Djufri (1993: 07), ”Setiap jenis tumbuhan memerlukan kondisi lingkungan yang sesuai untuk hidupnya”. Oleh karena itu tumbuhan hanya menempati bagian yang cocok bagi pertumbuhannya.
    Rendahnya dominansi familia lain juga dapat disebabkan karena kurang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungannya terutama dalam mendapatkan faktor-faktor yang mendukung kelangsungan hidupnya, dan ketidakmampuannya bersaing dengan tumbuhan di sekitarnya yang memiliki pertahanan tubuh misalnya berduri, berbau yang tidak bisa diterima sekelilingnya, tumbuh cepat, berakar dan berkanopi luas, bertubuh tinggi maupun yang mampu mensekresikan alelopati (Moenandir, 1988: 73).
    Selain mengamati berbagai tumbuhan yang hidup di piringan dan gawangan tanaman kelapa sawit, penulis juga mengamati tumbuhan yang tumbuh di batang dan pelepah kelapa sawit. Tumbuhan yang ditemukan umumnya berupa paku-pakuan seperti Dryopteris setigera dan Nepilepis exaltata. Selain tumbuhan tersebut, penulis juga menemukan tumbuhan Peperomia pellucida dan Solanum melongena tumbuh di batang kelapa sawit tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan, penulis menyimpulkan bahwa keberadaan tumbuhan tersebut pada batang kelapa sawit tidak berdampak nyata pada produktivitas tanaman kelapa sawit, karena tumbuhan tersebut hanya tumbuh pada humus yang terbentuk di sela-sela pelepah kelapa sawit. Akar tumbuhan tersebut tidak menembus batang kelapa sawit. Pembersihan batang kelapa sawit dari tumbuh-tumbuhan liar tidak lebih dari nilai estetika semata (Wawancara, 2009).

4.1.2. Nilai Penting Herba
    Indeks nilai penting seluruh spesies herba yang ditemukan pada seluruh stasiun pengamatan, disajikan pada tabel 4.2. berikut :     
Tabel 4.2. Spesies, Familia, dan Urutan Indeks Nilai Penting Herba pada
    Seluruh Stasiun Pengamatan      

No    Spesies    Familia    NP    Keterangan      
(1)    (2)    (3)    (4)    (5)      
1    Axonopus compresus    Poaceae    42,427    Tinggi      
2    Kyllinga monocephala    Cyperaceae    23,141    Sedang      
3    Cynodon dactylon    Poaceae    20,969    Sedang      
4    Andropogon aciculatus    Poaceae    20,526    Sedang      
5    Mimosa pudica    Mimosaceae    17,792    Sedang      
6    Dimeria ornithopoda    Poaceae    11,684    Rendah      
7    Digitaria sanguinalis    Poaceae    11,075    Rendah      
8    Phyllanthus urinaria    Euphorbiaceae    8,782    Rendah      
9    Stachytarpheta indica    Verbenaceae    8,617    Rendah      
10    Typhonium flagelliforme    Araceae    8,319    Rendah      
11    Caladinus bicolor    Araceae    8,269    Rendah      
12    Ageratum conyzoides    Asteraceae    8,219    Rendah      
13    Amaranthus spinosus    Amaranthaceae    8,141    Rendah      
14    Achyranthes aspera    Amaranthaceae    7,988    Rendah      
15    Cyperus rotundus    Cyperaceae    5,501    Rendah      
16    Dryopteris cucullata    Dryopteridaceae    4,996    Rendah      
17    Imperata cylindrica    Poaceae    4,791    Rendah      
18    Gleichenia linearis    Gleicheniaceae    3,987    Rendah      
19    Passpalum conjugatum    Poaceae    3,894    Rendah      
20    Cyperus difformis    Cyperaceae    3,515    Rendah      
21    Sporobolus berteroanus    Poaceae    3,306    Rendah      
22    Cardiospermum halicacabum    Sapindaceae    3,276    Rendah      
23    Colocasia esculenta    Araceae    3,051    Rendah      
24    Cyperus cyperoidis    Cyperaceae    3,018    Rendah      
25    Centela asiatica    Umbelliferae    2,911    Rendah      
26    Momordica charantia    Cucurbitaceae    2,637    Rendah      
(1)    (2)    (3)    (4)    (5)      
27    Limnocharis flava    Limnocharitaceae    2,587    Rendah      
28    Cyperus dilutus    Cyperaceae    2,347    Rendah      
29    Leucas aspera    Poaceae    2,319    Rendah      
30    Cyperus haspan    Cyperaceae    2,247    Rendah      
31    Dryopteris arida    Dryopteridaceae    2,219    Rendah      
32    Elephantopus scaber    Asteraceae    2,147    Rendah      
33    Cyperus radiatus    Cyperaceae    2,147    Rendah      
34    Mikania micrantha    Asteraceae    2,119    Rendah      
35    Isachne miliacea    Poaceae    2,076    Rendah      
36    Adiantum sp    Peridaceae    1,976    Rendah      
37    Coldenia procumbens    Boraginaceae    1,823    Rendah      
38    Cyperus elatus    Cyperaceae    1,819    Rendah      
39    Desmodium heterophylum    Fabaceae    1,733    Rendah      
40    Cyperus cyperinus    Cyperaceae    1,733    Rendah      
41    Euphorbia hirta    Euphorbiaceae    1,576    Rendah      
42    Hemidiodia ocymifolia    Rubiaceae    1,533    Rendah      
43    Amorphophallus oncophyllus    Araceae    1,526    Rendah      
44    Eleusine indica    Poaceae    1,526    Rendah      
45    Hyptis brevipes    Labiatae    1,519    Rendah      
46    Borreria laevis    Rubiaceae    1,376    Rendah      
47    Blumea sessiliflora    Asteraceae    1,376    Rendah      
48    Physalis angulata    Solanaceae    1,369    Rendah      
49    Emilia sonchifolia    Asteraceae    1,369    Rendah      
50    Ipomoea pestigridis    Convolvulaceae    1,319    Rendah      
51    Borreria ocymoides    Rubiaceae    1,226    Rendah      
52    Nepilepis exaltata    Lomariopsidaceae    1,219    Rendah      
53    Selaginella plana    Selaginellaceae    1,069    Rendah      
54    Boreira latifolia    Rubiaceae    1,019    Rendah      
55    Dryopteris setigera    Dryopteridaceae    0,862    Rendah      
Jumlah    300,00       
 Sumber : Data Primer (2009)

    Untuk memberikan makna Indeks Nilai Penting setiap spesies herba tersebut, maka dilakukan pengelompokan menjadi herba yang memiliki nilai penting > 27,998 (tinggi), 14,429 -  27,998 (sedang) dan < 14,429 (rendah). Cara menentukan  pengelompokan ini dapat dilihat pada lampiran 7.
    Berdasarkan Tabel 4.2 di atas, dapat dilihat bahwa Axonopus compresus memiliki nilai penting tertinggi yaitu 42,427, dapat dikatakan bahwa tumbuhan yang memiliki nilai penting tertinggi merupakan jenis tumbuhan yang mendominasi areal penelitian, semakin tinggi nilai penting maka semakin banyak jumlah kehadiran tumbuhan pada suatu wilayah. Sebaliknya tumbuhan yang memiliki nilai penting terendah adalah Dryopteris setigera yang memiliki nilai penting 0,862, menunjukkan tumbuhan tersebut kurang mendominasi. Tinggi rendahnya Nilai Penting tersebut menunjukkan gambaran tingkat penguasaan spesies dalam komunitas karena dapat beradaptasi dengan lingkungan dan dapat memanfaatkan kondisi lingkungan dengan baik.

4.1.3. Indeks Keragaman (H’) Herba
    Indeks keragaman jenis herba pada seluruh stasiun pengamatan ditampilkan pada Tabel 4.3. berikut :
Tabel 4.3. Jumlah Spesies dan Keragaman Herba pada seluruh stasiun pengamatan 

No    Stasiun    Jumlah Spesies    Keragaman    Keterangan      
(1)    (2)    (3)    (4)    (5)      
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10    I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X    22
14
15
16
17
13
19
16
19
17    2,97
2,40
2,44
2,66
2,53
2,46
2,78
2,54
2,66
2,73    Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang      
Rata-rata    2,62    Sedang   
Sumber : Analisis Data Primer, 2009     

    Berdasarkan Tabel 4.3 di atas, hasil perhitungan indeks keragaman spesies herba berkisar antara 2,40 sampai dengan 2,97  dengan nilai indeks keragaman 2,62 dari 10 stasiun pengamatan. Maka berdasarkan kriteria di atas, indeks keragaman jenis herba di lokasi penelitian termasuk dalam kategori sedang.
    Hasil perhitungan indeks keragaman spesies herba termasuk ke dalam kategori sedang di setiap stasiun pengamatan, hal ini disebabkan karena lokasi penelitian merupakan areal perkebunan yang cukup terawat sehingga vegetasi herba yang terdapat di lokasi penelitian mengalami penyusutan keragaman jenisnya. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan pihak perkebunan, diketahui bahwa pengendalian tumbuhan liar di perkebunan tersebut dilakukan secara rotasi dalam selang waktu 3 bulan sekali. Adapun teknik pengendaliannya ada dua macam, yakni secara kemis dan mekanik. Tingkat keragaman spesies yang ada pada seluruh stasiun pengamatan juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti adanya kompetisi antar spesies dalam memperebutkan unsur-unsur hara dan gangguan yang terjadi baik dalam maupun luar komunitas, sehingga kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan mengakibatkan hanya spesies-spesies yang memiliki daya adaptasi tinggi yang mampu bertahan hidup.

4.1.4. Indeks Kemiripan (IS) Herba
Tabel 4.4. Hasil Perhitungan Indeks Kesamaan (IS) Herba pada seluruh stasiun
    Pengamatan. (dalam %).

No    I    II    III    IV    V    VI    VII    VIII    IX    X      
I        33,3    37,84    52,63    41,03    40    43,90    31,58    29,27    35,90      
II            34,48    53,33    38,71    51,85    36,36    46,67    36,36    32,26      
III                45,16    43,75    35,71    29,41    32,26    23,53    31,35      
IV                    54,54    55,17    45,71    50    40    42,42      
V                        53,3    44,4    42,42    44,4    41,18      
VI                            56,25    55,17    50    33,33      
VII                                62,86    52,63    50      
VIII                                    45,71    54,54      
IX                                        27,80      
X                                           
Sumber : Analisis Data Primer, 2009

    Berdasarkan Tabel 4.4. di atas dapat dilihat bahwa indeks kesamaan herba yang terdapat di lokasi penelitian yaitu areal perkebunan PT. Perkebunan Nusantara I PKS dan PIS Tg Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2009 secara umum dapat dikategorikan sedang. Ini menunjukkan  bahwa antara stasiun-stasiun tersebut memiliki kemiripan dan keragaman yang sama, hal ini dikarenakan indeks kemiripan antara stasiun-stasiun tersebut > 25 %. Penentuan indeks kesamaan dapat dilihat pada lampiran 8.
    Hasil Indeks Kesamaan yang terdapat di lokasi penelitian memberikan indikasi bahwa banyak spesies tumbuhan yang dijumpai sama pada setiap stasiun pengamatan. Hal ini dapat dimaklumi karena lokasi penelitian adalah areal perkebunan yang tentu saja kehadiran tumbuh-tumbuhan yang tidak dikehendaki sangat dibatasi. Sehingga hanya tumbuh-tumbuhan yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi saja yang dapat terus bertahan hidup.

4.2.     Komposisi Spesies, Nilai Penting, dan Keragaman Tumbuhan Semak di
    Lokasi Penelitian


4.2.1. Komposisi Spesies Semak
    Berdasarkan hasil penelitian di areal perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara I PKS dan PIS Tg Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang, diketahui bahwa komposisi spesies semak yang terdapat pada seluruh stasiun penelitian terdiri dari 15 spesies dari 9 familia. Komposisi familia semak ditampilkan dalam diagram pie berikut:
 Gambar 4.2. Diagram Pie Komposisi Familia Semak Pada Seluruh Stasiun Penelitian

    Adapun nama lokal, nama ilmiah, dan familia dari tumbuhan semak ditampilkan pada tabel 4.5.
Tabel 4.5. Nama Lokal, Nama Ilmiah, dan Familia Kelompok Semak Yang
    Ditemukan di Seluruh Stasiun Penelitian.

No    Nama Lokal    Nama Ilmiah    Famili    Stasiun      
1    Orok-orok    Crotalaria verrucosa    Fabaceae    I,IX      
2    Putihan    Eupathorium odoratum    Euphorbiaceae    I,II,III,IV,VII,VIII,IX,X      
3    Terong  rimba    Solanum melongena    Solanaceae    I,II,III,IV,V,VI,VII,IX,X      
4    Pulutan    Urena lobata    Malvaceae    I,II,III,IV,V,VI,VII,VIII,IX,X      
5         Jussieua peruviana    Onagraceae    I,II,IV      
6    Rimbang    Solanum torvum    Solanaceae    I,II,X      
7         Hemigraphis hirsuta    Acanthaceae    II      
8    Kemangi    Ocimum canum    Lamiaceae    II,IV,VI      
9         Coldenia procumbens     Boraginaceae    II,III      
10    Jarong    Stachytarpheta jamaicensis    Verbenaceae    III,IV,VII,VIII      
11    Tahi Ayam    Lantana camara    Verbenaceae    III,IV      
12         Malvastrum coromandelianum    Malvaceae    V,VII,IX      
13         Melastoma malabathricum     Fabaceae    V,X      
14    Orok-orok    Crotalaria incana    Fabaceae    VII      
15         Solanum jamaicense    Solanaceae    VII   
Sumber: Data Penelitian (2009)

    Berdasarkan Tabel 4.5. di atas dapat diketahui bahwa terdapat 15 spesies dari 9 familia semak yang terdapat pada seluruh stasiun pengamatan, dari 15 spesies semak  masing-masing terdiri dari 3 spesies dari familia fabaceae, 3 spesies dari familia solanaceae, 2 spesies dari familia malvaceae, 2 spesies dari familia verbenaceae, dan masing-masing 1 spesies dari familia euphorbiaceae, onagraceae, acanthaceae, lamiaceae, dan boraginaceae.
    Familia yang mendominasi areal perkebunan adalah fabaceae dan solanaceae, hal ini mengindikasikan bahwa tumbuhan dari familia tersebut lebih dominan diantara tumbuhan yang lain. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Tjitrosoepomo (1989: 153), ”Kemenangan suatu jenis dalam berkompetisi menyebabkan jenis tersebut mendominasi.” Lebih lanjut Rismunandar (1986: 09) menyatakan bahwa sebagian tumbuhan yang hidup di berbagai habitat memiliki sifat antara lain: dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, iklim, maupun berkompetisi dengan tumbuhan lain serta mudah tumbuh kembali setelah mengalami kerusakan.


4.2.2. Nilai Penting Semak
    Indeks Nilai Penting seluruh spesies semak yang ditemukan pada seluruh stasiun penelitian, disajikan pada tabel 4.6. berikut:
Tabel 4.6. Spesies, Familia, dan Urutan Indeks Nilai Penting Semak Untuk
    Seluruh Stasiun Penelitian.

No    Spesies
    Familia    NP    Keterangan      
(1)    (2)    (3)    (4)    (5)      
1    Urena lobata    Malvaceae    54,681    Tinggi      
2    Eupathorium odoratum    Euphorbiaceae    54,434    Tinggi      
3    Solanum melongena    Solanaceae    48,050    Tinggi      
4    Malvastrum coromandelianum    Malvaceae    35,080    Sedang      
5    Ocimum canum    Lamiaceae    26,837    Sedang      
6    Stachytarpheta jamaicensis    Verbenaceae    25,296    Sedang      
7    Solanum torvum    Solanaceae    10,493    Rendah      
8    Crotalaria verrucosa    Fabaceae    10,263    Rendah      
9    Lantana camara    Verbenaceae    7,350    Rendah      
10    Melastoma malabathricum    Fabaceae    7,120    Rendah      
11    Jussieua peruviana    Onagraceae    5,752    Rendah      
12    Coldenia procumbens    Boraginaceae    4,666    Rendah      
13    Hemigraphis hirsuta    Acanthaceae    3,913    Rendah      
14    Solanum jamaicense    Solanaceae    3,659    Rendah      
15    Crotalaria incana    Fabaceae    2,406    Rendah      
Jumlah    300,00       
Sumber: Data Primer (2009)

    Berdasarkan data Tabel 4.6. di atas dapat dilihat bahwa terdapat tiga jenis spesies semak yang memiliki nilai penting tinggi yaitu Urena lobata (54,681), Eupathorium odoratum (54,434), dan Solanum melongena (48,050). Dapat dikatakan bahwa tumbuhan yang memiliki nilai penting tertinggi merupakan spesies yang mendominasi wilayah penelitian, semakin tinggi nilai penting suatu spesies tumbuhan maka semakin banyak pula jumlah kehadirannya dalam suatu areal penelitian.
    Nilai penting tergolong rendah ditemukan pada  sembilan spesies semak yaitu Solanum torvum (10,493), Crotalaria verrucosa (10,263), Lantana camara (7,350), Melastoma malabathricum (7,120), Jussieua peruviana (5,752), Coldenia procumbens (4,666), Hemigraphis hirsuta (3,913), Solanum jamaicense (3,659), dan  Crotalaria incana (2,406).
    Besar kecilnya nilai penting tersebut memberikan gambaran tingkat penguasaan spesies dalam komunitas karena mampu beradaptasi dengan lingkungan, juga menggambarkan besarnya pengaruh yang diberikan oleh suatu spesies tumbuhan terhadap komunitas.

4.2.3. Indeks Keragaman (H’) Semak
    Indeks keragaman spesies semak pada seluruh stasiun pengamatan ditampilkan pada tabel 4.7.
Tabel 4.7. Jumlah Spesies, Keragaman Semak Pada Seluruh Stasiun Pengamatan.

No    Stasiun    Jumlah Spesies    Keragaman    Keterangan      
(1)    (2)    (3)    (4)    (5)      
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10    I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X    6
8
6
7
4
3
7
3
5
5    1,74
2,04
1,66
1,93
1,26
1,06
1,85
1,05
1,46
1,34    Rendah
Sedang
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah      
Rata-rata    1,476    Rendah   
Sumber: Analisis Data Primer (2009)

    Berdasarkan Tabel 4.7 di atas dapat diketahui bahwa indeks keragaman spesies semak berkisar antara 1,05 sampai dengan 2,04 dengan indeks keragaman rata-rata 1,476 dari 10 stasiun pengamatan. Dengan demikian tingkat keragaman adalah rendah, sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan. Ini menunjukkan bahwa keragaman spesies semak yang telah diamati pada setiap stasiun penelitian relatif homogen.
    Penjelasan yang dapat diberikan atas kenyataan tersebut diantaranya adalah kemenangan suatu spesies dalam persaingan memperebutkan unsur hara mengakibatkan jenis tersebut menjadi dominan dalam sebuah komunitas. Sehingga menampilkan keragaman yang relatif rendah (homogen). Sebaliknya bila persaingan yang terjadi antara spesies berlangsung secara seimbang, maka keragaman spesies cenderung meningkat. Kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan serta gangguan-gangguan yang terjadi baik dari dalam maupun luar komunitas seperti  pemberantasan gulma oleh manusia juga menyebabkan penyusutan spesies yang hidup pada areal perkebunan kelapa sawit tersebut. 

4.2.4. Indeks Kemiripan (IS) Semak
Tabel 4.8. Hasil Perhitungan Indeks Kesamaan (IS) Semak Pada Seluruh Stasiun
    Penelitian (dalam %).

No    I    II    III    IV    V    VI    VII    VIII    IX    X      
I        57,14     50    61,5    40    44,4    46,15    44,4    72,7    72,7      
II            57,14    53,3    33,3    54,5    40    36,36    46,15    61,54      
III                61,54    40    44,4    61,54    66,7    54,54    54,54      
IV                    36,36    60    57,14    60    50    50      
V                        57,14    54,54    28,57    66,7    66,7      
VI                            40    33,33    50    50      
VII                                60    66,7    50      
VIII                                    50    50      
IX                                        60      
X                                           
Sumber: Analisis Data Primer (2009)

    Berdasarkan Tabel 4.8. di atas dapat dilihat bahwa secara umum indeks kemiripan semak yang terdapat di lokasi penelitian termasuk ke dalam kategori tinggi dan sedang. Indeks kemiripan tertinggi terletak antara stasiun I dan IX dan antara stasiun I dan X  yaitu sebesar 72,7% hal ini disebabkan oleh indeks kemiripan antara stasiun-stasiun tersebut > 50% sedangkan indeks kemiripan terendah terletak antara stasiun V dan VIII yaitu 28,57%, Sehingga dikategorikan ke dalam tingkat kemiripan sedang. Hasil ini menunjukkan bahwa antara stasiun-stasiun tersebut hanya mempunyai keragaman yang sedikit. Penentuan indeks kemiripan dapat dilihat pada lampiran 8.
    Indeks kemiripan semak menunjukkan keanekaragaman yang rendah, ditinjau dari penyebaran spesies yang terdapat di lokasi penelitian. Hal ini memberikan indikasi bahwa banyak spesies tumbuhan semak yang dijumpai sama pada setiap stasiun pengamatan.
4.3.    Komposisi Spesies, Nilai Penting, dan Keragaman Tumbuhan Pohon di
    Lokasi Penelitian

4.3.1. Komposisi Spesies Pohon
    Hasil penelitian di areal perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara I PKS dan PIS Tg Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang, ditemukan 15 spesies pohon dari 13 familia. Komposisi familia pohon ditampilkan dalam diagram pie berikut:
 Gb. 4.3. Diagram Pie Komposisi Familia Pohon Pada Seluruh Stasiun Pengamatan 

    Adapun nama lokal, nama ilmiah, dan familia dari tumbuhan pohon yang ditemukan di lokasi penelitian ditampilkan pada tabel 4.9.
Tabel 4.9. Nama Lokal, Nama Ilmiah, dan Familia kelompok pohon yang
            ditemukan di seluruh Stasiun Penelitian.   

No    Nama Lokal    Nama Ilmiah    Famili      
1    Jati    Tectona grandis    Verbenaceae      
2    Waru    Hibiscus tiliaceus    Malvaceae      
3    Karet    Ficus elastic    Moraceae      
4    Pisang    Musa paradisiacal    Musaceae      
5    Pinang    Arecha cathecu    Arecaceae      
6    Kelapa    Cocus nucifera    Arecaceae      
7    Pakis haji    Cycas rumphii    Cycadaceae      
8    Mengkudu    Morinda citrifolia    Rubiaceae      
9    Lamtoro    Leucaena glauca    Mimosaceae      
10    Cokelat    Theobroma cacao    Theobromaliaceae      
11    Jambu biji    Psidium guajava    Myrtaceae      
12    Belimbing wuluh    Averrhoa bilimbi    Oxalidaceae      
13    Rambutan    Nephelium lappaceum    Sapindaceae      
14    Kapuk    Ceiba pentandra    Malvaceae      
15    Jarak pagar     Jatropha curcas    Euphorbiaceae   
Sumber: Data Penelitian (2009)
   
    Berdasarkan Tabel 4.9. di atas dapat diketahui bahwa terdapat 15 spesies dari 13 familia pohon yang terdapat pada seluruh stasiun penelitian. Dari 15 spesies pohon terdapat 2 spesies malvaceae, 2 spesies arecaceae, dan masing-masing satu spesies verbenaceae, moraceae, musaceae, cycadaceae, rubiaceae, mimosaceae, Theobromaliaceae, myrtaceae, oxalidaceae, sapindaceae, dan euphorbiaceae.
    Tabel di atas menunjukkan bahwa vegetasi pohon yang terdapat di lokasi penelitian didominasi oleh familia malvaceae. Selain itu tabel tersebut juga memperlihatkan bahwa familia malvaceae, dan arecaceae memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. Kemenangan satu spesies dalam berkompetisi menyebabkan spesies tersebut menjadi dominan dalam komunitas.

4.3.2. Nilai Penting Pohon
    Indeks nilai penting seluruh spesies pohon yang ditemukan pada seluruh stasiun penelitian disajikan pada tabel 4.10. berikut ini:


Tabel 4.10. Nama Spesies, Familia, dan Urutan Indeks Nilai Penting Pohon Pada
    Seluruh Stasiun Penelitian.

No    Nama Spesies
    Familia    NP    Keterangan      
(1)    (2)    (3)    (4)    (5)      
1    Hibiscus tiliaceus    Malvaceae    62,784    Tinggi      
2    Musa paradisiaca    Musaceae    59,678    Tinggi      
3    Arecha cathecu    Arecaceae    50,189    Tinggi      
4    Tectona grandis    Verbenaceae    24,261    Sedang      
5    Ceiba pentandra    Malvaceae    20,891    Rendah      
6    Ficus elastica    Moraceae    15,001    Rendah      
7    Cocus nucifera    Arecaceae      13,625    Rendah      
8    Leucaena glauca    Mimosaceae    10,806    Rendah      
9    Jatropha curcas    Euphorbiaceae    8,224    Rendah      
10    Cycas rumphii    Cycadaceae    6,880    Rendah      
11    Psidium guajava    Myrtaceae    6,337    Rendah      
12    Averrhoa bilimbi    Oxalidaceae    5,795    Rendah      
13    Nephelium lappaceum    Sapindaceae    5,628    Rendah      
14    Morinda citrifolia    Rubiaceae    4,951    Rendah      
15    Theobroma cacao    Theobromaliaceae    4,951    Rendah      
Jumlah    300,00       
Sumber: Analisis Data (2009)

    Berdasarkan data Tabel 4.10. di atas dapat dilihat bahwa ada tiga spesies yang memiliki Nilai Penting tinggi. Spesies tersebut adalah Hibiscus tiliaceus (62,784), Musa paradisiaca (59,678), dan Arecha cathecu (50,189).
    Besar kecilnya nilai penting tersebut memberikan gambaran tingkat penguasaan spesies dalam komunitas karena dapat beradaptasi dengan lingkungan serta menggambarkan besarnya pengaruh yang diberikan oleh suatu spesies tumbuhan terhadap komunitas.
    Tumbuhan yang memiliki nilai penting tertinggi memiliki kemampuan bertahan hidup, berkompetisi, dan beradaptasi yang relatif baik. Semua tumbuhan baik besar maupun kecil saling berkompetisi untuk mendapatkan cahaya, mineral, ruang dan untuk habitat darat juga bersaing untuk mendapatkan air. Persaingan untuk kebutuhan lingkungan yang sama menyebabkan keragaman pada struktur tumbuhan dalam satu populasi (Ewusie, 1980: 91).

4.3.3. Indeks Keragaman (H’) Pohon
    Hasil penelitian di areal perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara I PKS dan PIS Tg Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang menunjukkan indeks keragaman pohon pada seluruh areal penelitian yang relatif sama. Keanekaragaman spesies lebih ditentukan oleh variasi nilai penting yang ditunjukkan setiap spesies pada sasiun penelitian. Keanekaragaman digunakan untuk mengetahui banyaknya spesies tumbuhan yang menyusun suatu komunitas. Semakin tinggi indeks keragaman maka semakin banyak spesies tumbuhan yang hidup pada suatu kawasan tertentu.
    Faktor lain yang turut menentukan tinggi rendahnya keragaman spesies pada suatu komunitas adalah tingkat persaingan dan kemampuan beradaptasi. Persaingan dapat terjadi karena saling memperebutkan unsur hara, air, cahaya, ruang untuk hidup dan sebagainya. Ketidakmampuan suatu spesies tumbuhan dalam beradaptasi terhadap perubahan lingkungan pada akhirnya akan menyebabkan tumbuhan tersebut mati dan hal ini akan mengurangi keragaman pada komunitas. Setiadi dan Tjondronegoro (1989: 274) mengatakan bahwa, ”Bila kelimpahan seluruh spesies yang ada di dalam komunitas seimbang, maka keragaman spesies cenderung meningkat”.
    Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa familia pohon pada areal perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara I PKS dan PIS Tg Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang didominasi oleh malvaceae yaitu sebanyak 3 spesies. Hal tersebut disebabkan karena tumbuhan ini memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. Adapun faktor yang menyebabkan rendahnya dominansi familia-familia lain adalah kurang mampunya tumbuhan tersebut dalam beradaptasi terhadap perubahan lingkungan serta daya dukung lingkungan yang kurang. Sebagaimana diungkapkan Resosoedarmo, dkk (1990: 17), ”Daya dukung suatu wilayah yang dihuni oleh berbagai jenis organisme dipengaruhi oleh perubahan iklim, cuaca, pembakaran, banjir dan kegiatan manusia”.













BAB V
PENUTUP

5.1.     Simpulan
    Berdasarkan hasil pembahasan dapat diambil simpulan sebagai berikut:
1.    Tingkat Keanekaragaman tumbuhan herba pada seluruh lokasi penelitian adalah sedang, yakni memiliki Indeks Keragaman rata-rata sebesar 2,620
2.    Tingkat Keanekaragaman tumbuhan semak pada seluruh lokasi penelitian adalah   rendah, yakni memiliki Indeks Keragaman rata-rata sebesar 1,476.
3.    Indeks Kemiripan herba pada seluruh stasiun pengamatan secara umum dapat dikategorikan sedang.
4.    Indeks Kemiripan semak pada seluruh stasiun pengamatan secara umum dapat dikategorikan tinggi.
5.    Familia pohon yang mendominasi lokasi penelitian adalah Malvaceae dan Arecaceae. Masing-masing sebanyak 2 spesies. Malvaceae terdiri dari Hibiscus tiliaceus dan Ceiba pentandra sedangkan Arecaceae terdiri dari Arecha cathecu dan Cocus nucifera

5.2. Saran
1.    Dengan diketahuinya struktur dan komposisi spesies herba, semak dan pohon di areal perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara I PKS dan PIS Tg Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang, Pengelola perkebunan dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengendalikan tumbuhan-tumbuhan pengganggu yang dapat menurunkan  kuantitas dan kualitas hasil produksi perkebunan.
2.    Hasil analisis vegetasi di areal perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara I PKS dan PIS Tg Seumantoh Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang diketahui memiliki keanekaragaman spesies tumbuhan, dan diantara spesies tersebut terdapat spesies-spesies yang dapat meningkatkan kandungan mineral dalam tanah. Seperti tumbuhan kacang-kacangan. Pihak pengelola perkebunan dapat mempertahankan spesies-spesies tumbuhan tersebut untuk meningkatkan produksi perkebunan.














DAFTAR RUJUKAN

Barbour, G. M. J. K. Burk and W. D. Pitts. 1978. Terrestrial Plant Ecology. The
    Benyamin/Cummings Publicing Company. California: INC.

Backer C.A.R.C. Van Den Brink Bakhhuizen Jr. 1963. Flora of Java. Edisi ke II.
    N.V.P. Noordhoff – Groningen the Nederlands.

Direktorat Jenderal Perkebunan. 1998. Statistika Perkebunan Indonesia. Jakarta:
    Direktorat Jenderal Perkebunan.

Djauhariya, E. 2004. Gulma Berkhasiat Obat. Jakarta: Penebar Swadaya.

Djufri. 2006. Studi Antekologi dan Pengaruh Invasi Acasia (Acasia nilotica L).
    Willd. Ex. Del. Terhadap Eksistensi Savana dan strategi Penanganan
    di Taman Nasional Baluran Banyuwangi. Bogor: Institut Pertanian
    Bogor.

Endang, S. 2002. Pengantar Ilmu Kehutanan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Ewusie, J.Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Bandung: ITB.

Fauzi, Y. 2008. Kelapa Sawit, Budi Daya, Pemanfaatan Hasil dan Limbah serta
    Analisis Usaha dan Pemasaran. Jakarta: Penebar Swadaya.

Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: Bumi Aksara.

Krebs, J. Charles. 1978. Ekology Ekperimental Analysis of Distribution and
    Abudance. Second Edition Harper & Row. New York Hagertown San
    Francisco, London: Publisher.

Michael, P. 1985. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan
    Laboratorium. Jakarta: UI Press.

Moenandir, J. 1988. Pengantar Ilmu dan Pengendalian Gulma. Jakarta: CV
    Rajawali.

Moesa, S. 2002. Ilmu Lingkungan. Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala Press.

Odum, E.P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Diterjemahkan oleh Tjahjono Samingan
    dari Fundamental of Ecology. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gajah Mada
    University Press.

Oosting, H. 1956. The Study of Plant Communities. USA: W. H. Freeman and Co.

Pahan, I. 2008. Panduan Teknis Budidaya Kelapa Sawit. Jakarta: IWH.

Pudjiharta, Ag. 1991. Respon dan Beberapa Tumbuhan Bawah Terhadap Tata
    Air. Bogor: Pusat Penelitian dan pengembangan Hutan Bogor.

Soeryanegara. 1972. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut
    Pertanian Bogor.

Steenis, C.G.G.J. 1978. Flora Untuk Sekolah. Diterjemahkan oleh Moeso
    Surjawinoto, Soenarto, Hadjosuwarno, Soerjo Sodo Adiswoyo, Wibisono,
    Margono, Portodidjogo, dan Sumantri Wirjahardja dari Flora. Jakarta:
    Pradya Paramita.

Sunarko. 2007. Peunjuk Prakis Budi Daya dan Pengolahan Kelapa Sawit.
    Jakarta: Agromedia Pustaka.

Tjitrosoepomo, G. 1991. Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. Yogyakarta:
    Gajah Mada University Press.

______________. 2005. Taksonomi Tumbuhan Schizophyta, Thallophyta,
    Bryophyta, dan Pteridophyta. Yogyakarta: Gadjah Mada University
    Press.

Yakup, Y. S. 2002. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Jakarta: PT.
    RajaGrafindo Persada.



















                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.