Selasa, 22 Februari 2011

REVIEW JURNAL INTEGRASI ICT di Malaysia

Judul : Kondisi dan Tingkat Pendekatan Integrasi ICT di Sekolah Smart
                  Malaysia
Oleh : Wan Zah Wan Ali, Azimi Hamzah and Hayati Alwi  (Universiti
                  Putra Malaysia) serta Hajar Mohd Nor (Ministry of Education
                  Malaysia).

A. Latar Belakang Teori dan Tujuan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif untuk menggambarkan kondisi yang memfasilitasi penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) di sekolah Smart Malaysia, dan masalah-masalah yang muncul selama proses integrasi ICT tersebut. Penelitian kualitatif ini digunakan untuk menggali informasi dari para informan pada setting alami. Data yang dihasilkan melalui wawancara, observasi kelas, dan review dokumen mampu menangkap proses belajar-mengajar menggunakan integrasi ICT di dalam kelas.
Sekolah-sekolah teknologi kaya Malaysia atau sekolah pintar (sekolah smart) yang mereka luncurkan pada tahun 1999 merupakan sekolah yang mempersiapkan anak-anak untuk zaman informasi dan untuk mempromosikan tujuan dari filsafat nasional pendidikan. Ini merupakan salah satu dari tujuh aplikasi flagships yang merupakan bagian dari proyek Malaysia Multimedia Super Corridor (MSC). Karena berfungsi sebagai platform bagi departemen pendidikan untuk menghasilkan teknologi maju, berpikir kritis, tenaga kerja yang siap berpartisipasi secara penuh dalam ekonomi global di abad ke-21. Hal ini juga bertindak sebagai katalis untuk mencapai visi 2020 Malaysia. Menjadikan Malaysia pemimpin informasi dan komunikasi pusat teknologi internasional. Proyek Sekolah Smart ini dibangun pada praktik terbaik internasional, baik pada pendidikan dasar maupun menengah (KLH, 1997).
Dalam perencanaan awal, pemerintah Malaysia berencana meluncurkan lima tingkat teknologi dalam pilot project Smart School, yang mencakup tingkat teknologi sekolah, khususnya terpencil. Namun, dengan penurunan ekonomi pada tahun 1998, keputusan dibuat untuk merevisi tingkat teknologi menjadi tiga tingkatan. Tiga tingkatan tersebut yakni; Tingkat A yang dikenal sebagai Model Kelas Penuh, tingkat B+ yang dibatasi Kelas Model, dan Tingkat B yaitu Model Laboratorium.
Fullan (2001), Ely (1999), dan Rogers (1995) telah mengidentifikasi kondisi-kondisi yang harus hadir selama pelaksanaan inovasi dalam pendidikan. Kondisi-kondisi tersebut saling melengkapi dan harus hadir agar suatu inovasi dapat sukses dilaksanakan.
Ely (1999) telah mengidentifikasi delapan kondisi yang memfasilitasi pelaksanaan inovasi. Kondisi-kondisi tersebut adalah ketidakpuasan dengan adanya status quo, pengetahuan dan keterampilan, ketersediaan sumber daya, ketersediaan waktu, imbalan atau insentif yang ada, partisipasi, komitmen, dan kepemimpinan. Jika kedelapan kondisi tersedia dalam suatu inovasi yang diperkenalkan, maka ada kemungkinan yang tinggi dari keberlanjutan suatu inovasi. Penerapan suatu inovasi tidak akan bekerja dan berlanjut jika satu atau lebih persyaratan tersebut tidak ada.
Secara teoritis, ada banyak model perubahan dalam pendidikan. Arti Pendidikan Perubahan oleh Fullan (2001), Kondisi Perubahan Kerangka oleh Ely (1999), dan Difusi Inovasi Model oleh Rogers (1995) adalah beberapa model yang telah diidentifikasi untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pelaksanaan integrasi ICT yang dialami oleh guru yang mengajar di sekolah menengah. Model-model tersebut juga bertindak sebagai panduan untuk menjawab tujuan penelitian, yaitu:
1. Untuk mengidentifikasi adanya kondisi yang memfasilitasi pelaksanaan integrasi ICT di Smart School;
2. Untuk mengetahui keberadaan lingkungan yang memfasilitasi pelaksanaan integrasi ICT di Smart School;
3. Untuk mengidentifikasi tingkat pendekatan dalam mengintegrasikan ICT dalam kurikulum;
4. Untuk menemukan masalah yang muncul selama proses integrasi ICT di Smart School (Sekolah Smart).

B. Metode
Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif untuk menggali informasi. Data yang dihasilkan dari wawancara, observasi kelas, dan review dokumen mampu menangkap proses belajar-mengajar menggunakan integrasi ICT di dalam kelas. Tiga teknologi dari tingkat teknologi yang berbeda dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi.

- Informan
Informan dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar di Sekolah Smart. Guru-guru tersebut telah memiliki pengetahuan yang memadai tentang komputer dan internet.
Sebanyak dua puluh satu informan yang terdiri dari dua belas guru, tiga kepala sekolah, tiga kepala departemen kurikulum, dan tiga koordinator ICT diwawancarai. Para guru juga diamati selama observasi kelas untuk melihat penggunaan ICT di tempat kerja. Para guru merupakan informan utama (primer). Kepala sekolah, kepala bagian kurikulum, dan koordinator ICT merupakan informan sekunder.

- Pengumpulan Data
Durasi pengumpulan data adalah sekitar lima minggu per sekolah. Kelas pengamatan dilakukan pertama kali, diikuti dengan wawancara mendalam. Pengamatan kelas meliputi melihat bukti akses ICT di kelas, kegiatan ICT siswa, perangkat lunak dan aplikasi courseware yang sedang digunakan dan praktek mengajar guru dalam menggunakan ICT. Dalam studi ini, dokumentasi yang ditinjau adalah buku catatan guru. Ini adalah dokumen hukum dimana guru harus menuliskan rencana pengajaran tahunan dan harian (KLH, 1999). Di Malaysia, wajib bagi seorang guru untuk membuat buku catatan kelas. Buku catatan guru dikaji dalam penelitian ini untuk melakukan pelacakan sumber untuk integrasi ICT dalam kelas.

- Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi kelas, dan review dokumen dianalisis secara manual dan juga dengan menggunakan perangkat lunak N6 QSR Analisis Data Kualitatif (N6).

C. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan analisis data terungkap bahwa ada delapan kondisi yang memfasilitasi pelaksanaan integrasi ICT pada sekolah  menengah smart Malaysia. Berdasarkan analisis lebih lanjut, kedelapan kondisi tersebut dapat dikategorikan ke dalam dua kategori, yaitu penting dan kondisi pendukung. Kondisi penting adalah kondisi yang diperlukan untuk pelaksanaan, dimana kondisi yang mendukung adalah kondisi yang menjamin kelanjutan pelaksanaan.
Kondisi penting yang diidentifikasi adalah ketersediaan sumber daya ICT dan akuisisi pengetahuan ICT. Kondisi ini diperlukan untuk pelaksanaan integrasi ICT dalam kurikulum. Jika salah satu kondisi ini tidak hadir maka pelaksanaan integrasi ICT tidak akan terjadi. Adapun yang masuk ke dalam kategori kondisi pendukung adalah aksesibilitas sumber daya ICT, adanya dukungan, keinginan untuk mengubah, praktek sekolah, pengaruh kekuatan-kekuatan eksternal, dan komitmen guru terhadap inovasi menentukan kelanjutan pelaksanaan integrasi ICT di sekolah. Temuan menunjukkan adanya hubungan antara kehadiran kondisi-kondisi tersebut dengan kelanjutan pelaksanaan integrasi ICT.
Penemuan juga mengungkapkan bahwa guru dalam mengajar melakukan empat tingkat pendekatan dalam mengintegrasikan ICT dalam kurikulum. Guru mengintegrasikan ICT sebagai sumber daya verbal pada tingkat satu, sebagai sumber daya yang dicetak pada tingkat dua, sebagai pengalaman di tingkat tiga, dan kombinasi dari semua pendekatan di tingkat empat. Terlihat bahwa tingkat pendekatan dipengaruhi oleh keberadaan dan tingkat adanya kondisi yang memfasilitasi pelaksanaan integrasi ICT dalam kurikulum.
Penelitian ini juga menemukan masalah yang dihadapi guru selama proses integrasi ICT di sekolah. Isu-isu yang muncul dalam pelaksanaan integrasi ICT di sekolah smart Malaysia adalah faktor waktu, ketidakrelevanan konten kursus, dan kerusakan teknis.
Diskusi dan implikasi semua kondisi yang ditemukan dalam penelitian ini juga ditemukan benar untuk delapan kondisi Ely (1999), Fullan (2001) empat faktor yang mempengaruhi implementasi dan Rogers (1995) difusi model seperti dijelaskan dalam literatur.
Masyarakat sekarang ini semakin tergantung pada informasi elektronik dan komunikasi. ICT telah menjadi bagian dari masyarakat untuk komunikasi antara orang-orang, mencari hiburan dan pendidikan, tempat pertemuan virtual, belanja dan banyak lagi. Dengan demikian pendidikan memainkan peran yang sangat penting untuk menyediakan platform dan landasan yang kuat untuk masyarakat. Kondisi untuk keberhasilan pelaksanaan integrasi ICT di sekolah adalah persyaratan penting dan harus dipenuhi untuk mencapai visi 2020 Malaysia menjadi negara berkembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.